Serdadu Australia Sobek Merah-Putih


INDOSEJATI.com - Daftar pelecehan pasukan PBB di Timor Timur (Interfet) terhadap harga diri bangsa Indonesia makin panjang. Informasi terakhir menyebutkan serdadu Australia yang tergabung dalam Interfet merobek bendera nasional RI merah-putih. Insiden itu terjadi di Desa Tibar, Kec Liquisa, 38 km barat Dili, dan tersebar kepada wartawan kemarin.

Pada pagi hari kemarin, juga berlangsung serah terima kendali operasi keamanan di Timtim dari Komando Penguasa Darurat Militer Timtim Mayjen TNI Kiki Syahnakri pada Panglima Interfet Mayjen Peter Cosgrove. Upacara berlangsung di ruang tertutup di Makorem 164 Wiradharma, Dili.

Bersamaan dengan itu, TNI menarik habis kekuatannya di Timtim, kecuali satu batalyon AD, satu kompi Paskhas AU, Brimob, dan Marinir. Untuk sementara, mereka bertugas menjaga objek vital milik Pemerintah RI seperti PLN, gedung Pemda, dan gedung Makorem, hingga November nanti.

MDNM Komandan Interfet Mayjen Peter Cosgrove menyangkal bahwa Indonesia telah melakukan alih kekuasaan wilayah Timtim kepada pasukan yang dipimpinnya. ''Ini masih kawasan kedaulatan Indonesia dan berdasarkan resolusi PBB, Indonesia dan rekan-rekan lainnya, termasuk masyarakat dunia, setuju bahwa Indonesia memegang tanggung jawab keamanan atas provinsi tersebut,'' tutur Cosgrove, Senin.

Mengenai peristiwa perobekan merah-putih, Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) Joao da Silva Tavares, kepada wartawan di Atambua, NTT, kemarin, membenarkan laporan anggotanya tentang kejadian tersebut. Menurut Tavares, penyobekan merah-putih oleh tentara Australia itu disaksikan anggota PPI yang tertangkap Interfet tapi kemudian berhasil lolos.

''Kita sabar karena mengikuti kemauan negara kita dan turut mengangkat harkat dan derajat negara kita, Indonesia ini. Tetapi, kita tidak sabar karena merah-putih dirobek. PPI rela mati untuk merah-putih,'' kata Tavares.

Mengenang peristiwa perobekan bendera itu, Tavares berulang kali mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru. Sambil mengepalkan tangan kanannya, Tavares yang kini berusia 68 tahun itu menyatakan PPI tidak takut membela merah-putih agar tetap berkibar di Timtim.

''Orang-orang Timtim prointegrasi tak takut menghadapi kapal, pesawat, maupun helikopter perang yang canggih yang dikirim pasukan PBB. Bahkan, kami siap bergerilya selama seratus tahun,'' katanya sambil memukulkan kedua telapak tangan pada kedua pahanya.

Wakil Komandan Peleton Pos Kiper 3 Pasukan Aitarak (sayap PPI) Thomas do Rosario Fatima mengaku jadi saksi mata kejadian itu. Ia melihat anggota Interfet asal Australia mengambil bendera merah- putih dari mobil kijang putih yang ditumpanginya bersama sejumlah kawan di Desa Tibar, Liquisa, pada Sabtu (25/9) sekitar pukul 14.00 WITA.

Selain merobek merah-putih menjadi beberapa serpihan, tentara Interfet asal Australia juga menangkap empat anggota Aitarak, mengikat mereka dengan tali plastik, menodong, dan memukulinya. Sebanyak 12 anggota Aitarak pada Sabtu (25/9) mendatangi tempat tersebut untuk membebaskan sekitar 10 warga prointegrasi yang disandera di Tibar.

Namun, empat orang ditangkap Interfet dan lainnya berhasil meloloskan diri lalu menuju ke perbatasan Timtim-NTT. Keempat anggota Aitarak itu adalah Thomas do Rosario Fatima, Domingos Pereira, Fernando, dan Paulino.

Sejumlah anggota Dewan Nasional Pertahanan Timor Leste (CNRT) pimpinan Xanana Gusmao juga berada di tempat tersebut, ketika keempat anggota Aitarak itu disiksa dan diinjak-injak di jalan beraspal.

Provokasi oleh warga Timtim yang prokemerdekaan juga mengakibatkan penangkapan oleh Interfet terhadap 10 warga prointegrasi di Ermera yang sedang dalam perjalanan mengungsi ke Atambua, NTT, Kamis pekan lalu. Sepuluh orang itu disiksa oleh anggota CNRT dalam kondisi kedua tangan diikat. Dan, hingga saat ini nasibnya belum diketahui.

''Ketika kami disiksa pasukan Australia itu di jalan aspal, saya bisa melihat orang banyak di gudang kopi, pintunya terbuka dan saya lihat secara jelas mereka ada di sana,'' kata Thomas.

Menurut pengakuan Thomas, 20 anggota Interfet asal Australia berada di Tibar dengan menggunakan tiga mobil milik misi PBB di Timtim (UNAMET). Sementara sejumlah anggota prokemerdekaan juga berada di tempat tersebut membantu pasukan PBB untuk mencari dan menangkap warga prointegrasi, khususnya anggota PPI.

''Mereka bukan sebagai pasukan perdamaian yang harus netral di Timtim, melainkan tentara Australia yang bekerja sama dengan CNRT dan Falintil (sayap militer prokemerdekaan) untuk melawan prointegrasi. Pasukan perdamaian seharusnya mengamankan dua pihak,'' kata Thomas.

Kekejaman kembali diperlihatkan serdadu Australia, ketika mereka menangkap dan menyiksa pengungsi Timtim dan warga NTT yang hendak membantu pengungsian. Dari enam korban, tiga berasal dari Atambua, dan tiga lainnya anggota PPI dari Dili, Aitarak. Tiga warga Atambua tersebut Jonny R Eden (24), Yani Ndoen (35), dan Luis Seru (36). Sedangkan tiga anggota Aitarak adalah Lorenso Gomes (38), Caitano da Silva (38), dan Joao Ximenes (39).

Jonny mengaku enam orang itu ditangkap  saat hendak mengambil beberapa barang dengan mobil dari markas Aitarak di kompleks Tropical Dili. Tapi, belum sampai melakukan niatnya, mereka keburu tertangkap Interfet yang bekerja sama dengan para anggota CNRT.

Enam orang tersebut pada sekitar pukul 20.00 WITA dibawa ke Lapangan Tenis Melati, disiksa dan disuruh tidur tertelungkup di tempat itu dengan penjagaan ketat dan todongan senjata. ''Di situ saya juga lihat mayat dibungkus dalam satu karung dan dua lainnya tergeletak,'' katanya.

Jonny juga diperlakukan secara kasar antara lain dipukul dengan popor senapan pada bagian punggung serta ditendangi oleh pasukan Interfet. Enam orang itu kemudian dibawa ke Stadion Municipal Dili, diinterogasi dan disuruh berlutut di atas kotoran manusia serta dijemur di terik matahari selama satu jam.

Pada saat melakukan penyiksaan, tentara-tentara Australia itu menutup tanda nama pada seragamnya dengan lak ban berwarna hitam, sehingga tidak bisa diketahui identitasnya. ''Tetapi jelas dari kulitnya mereka bule dari Australia,'' katanya.

Jonny melanjutkan seorang serdadu wanita Australia ikut dalam proses interogasi itu. Selama berada di kota Dili dan ditangkap enam orang tersebut dijaga ketat oleh pasukan Interfet dengan selalu menodongkan senjata pada bagian leher, kepala, dan perut.

Jonny dan kawan-kawannya kemudian dibawa ke Bandara Comoro Dili Barat, namun di tempat tersebut mereka sudah tidak melihat keberadaan Caitano da Rilva, komandan Peleton Aitarak. Pada Jumat  malam Interfet membebaskan Luis, Jonny, dan Lorenso di Bandara Comoro.

Namun, Jonny dan Lorenso tidak bersedia keluar dari kompleks Bandara Comoro pada malam itu karena takut diculik dan dibunuh oleh warga prokemerdekaan. Sedangkan Luis, yang tampak ketakutan keluar dari tempat itu dan hingga saat sekarang ini tidak diketahui nasibnya.

Begitu juga tiga orang lainnya -- Yani Ndoen dan Joao Ximenes, Caitano Da Silva. Yang pasti, ujar Jonny, pada Jumat  malam mereka masih diinterogasi Interfet. Selama tiga hari ditangkap dan disiksa, keenam orang tersebut tidak diberi makan. Selama berada di kota Dili ia mengaku melihat sejumlah anggota prokemerdekaan -- CNRT dan Falintil-- turut berpatroli di dalam kota Dili dengan menumpang kendaraan milik Interfet.

''Setiap truk maupun tank pasukan Interfet pasti di situ duduk paling depan orang CNRT dengan membawa senjata, sementara di sepanjang Pantai Farol anggota Falintil dengan senjata api juga berjaga-jaga,'' katanya. Diduga, sepak terjang yang berlebihan oleh pasukan Australia lantaran mereka panik dan tegang menghadapi medan di Timtim. Dugaan lainnya, mereka memang harus melakukan itu sesuai standar keamanan.



Sumber: Republika, Atambua 28 September 1999

Postingan terkait: