Korut Sebut Darwin Australia, Dekat Perbatasan Indonesia, Sebagai Medan Perang Nuklir


INDOSEJATI.com - Korea Utara (Korut) menyebut wilayah Darwin, Australia, tempat dikerahkannya ratusan marinir Amerika Serikat (AS), sebagai medan perang nuklir. Australia menertawakan ancaman serangan nuklir rezim Pyongyang ke Darwin.

Ratusan marinir AS telah mendarat di Darwin sejak pekan lalu. Washington berencana mengerahkan hingga 1.250 marinir ke Darwin dan akan bertahan hingga enam bulan untuk melakukan latihan bersama militer Australia.

Namun, komandan militer AS yang bertugas di Darwin, Letnan Kolonel Brian S Middleton, mengatakan marinir AS siap berperang jika negaranya terlibat konflik langsung dengan Korut.

Korut melalui surat kabar Rodong Sinmun—media Partai Buruh Korut—menganggap AS telah menggunakan wilayah Australia itu sebagai persiapan perang nuklir.

”Ini adalah kehadiran militer AS (dalam) skala terbesar di Australia setelah Perang Dunia II,” tulis media Korut itu dalam editorialnya.

”Amerika mempersiapkan perang nuklir di berbagai penempatan militer di luar negeri,” lanjut tulisan media tersebut. ”Amerika secara fanatik, dengan canggung mencoba mengoptimalkan kesiapan perang nuklirnya.”

Editorial itu muncul setelah Kementerian Luar Negeri DPRK—Republik Demokratik Rakyat Korea, nama resmi Korut—memperingatkan bahwa pemerintah Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull agar tidak secara membabi buta dan rajin mengikuti jalur kebijakan AS.

”Hal ini sepenuhnya disebabkan oleh ancaman nuklir yang meningkat dari AS dan kebijakan anakronistiknya yang bermusuhan terhadap DPRK, sehingga situasi di Semenanjung Korea mendekati ambang perang,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

"Jika Australia terus mengikuti langkah AS untuk mengisolasi dan menahan DPRK dan tetap menjadi brigade kejut tuan rumah AS, ini akan menjadi tindakan bunuh diri untuk berada dalam jangkauan serangan nuklir dari kekuatan strategis DPRK,” lanjut pernyataan kementerian itu.

Tapi, Menteri Industri Pertahanan Australia Christopher Pyne menertawakan klaim terbaru Korut itu. Pyne kepada ABC, Selasa (25/4/2017), mengatakan bahwa penempatan marinir AS di Darwin telah menjadi kebijakan pemerintah yang telah berlangsung lama.

”Ini sama sekali bukan persiapan untuk melakukan ‘perobekan’ di Semenanjung Korea,” ujarnya. ”Jelas, kami ingin menghindari tindakan militer semacam itu dan kami ingin warga Korut berperilaku baik seperti warga negara internasional yang masuk akal,” lanjut Pyne.

”Itu berarti mengakhiri pengujian rudal mereka dan tidak mempersiapkan perang nuklir baik dengan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan atau orang lain dalam hal ini,” imbuh Pyne.

Pyne mengatakan Korut belum memiliki kemampuan untuk menempatkan hulu ledak nuklir pada sebuah rudal balistik yang akan sampai ke Australia.

”Dan salah satu alasan mengapa pemerintahan Trump memperkuat sikapnya pada Korut  adalah untuk menghindari Korut memiliki kemampuan itu. Dan untuk alasan itu, Australia mendukung tindakan AS dengan sangat kuat,” katanya.

”Dan kami meminta China untuk mengambil peran utama sebagai negara dengan pengaruh paling besar atas Korut dalam mewujudkannya.”


Sumber: Sindonews

Postingan terkait: