Kisah Operasi Pasukan Katak Basmi Perompak Somalia


INDOSEJATI.com- Tepatnya lima tahun lalu, kapal MV Sinar Kudus dibajak saat melintasi perairan Somalia yang paling angker di dunia.

Kapal asal Pomala, Sulawesi Selatan, yang sedang berlayar menuju Rotterdam, Belanda, dibajak oleh perompak Somalia pada 16 Maret 2011. Ketika peristiwa pembajakan terjadi, pasukan koalisi yang bertugas di wilayah terdekat masih menimbang untuk melakukan penyerbuan. Sebab resikonya terlalu besar karena para pembajak telah berada di atas kapal.

Tangga 23 Maret, Laksda Taufiqurochman yang saat itu menjabat Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat (Guspurlabar) dengan pasukannya diperintahkan untuk berangkat. Kopaska berangkat dengan menggunakan dua kapal perang yakni, KRI-355 Abdul Halim Perdanakusuma (AHP) dan KRI-353 Yos Sudarso. Selain itu, Kopaska juga dibekali empat sea-rider, crane untuk menurunkan sea-rider dan satu helikopter NBO-105 Bolkow.

“Di MV Sinar Kudus yang berlaku adalah orchestrating dari opsi militer, negosiasi, politik dan trik ulur waktu”, ungkap Taufiqurochman  saat menggarap buku 50 Tahun Komando Pasukan Katak.

Perompak Somalia dikenal sangat pintar dan punya sindikasi. Kala itu mereka membajak 28 kapal, menahan 584 sandera dan besar kemungkinan telah mengacak tempat penahanan di sejumlah kapal. “Kami bisa saja mengambil-alih MV Sinar Kudus, tetapi kalau awaknya ditahan di lain kapal keselamatan mereka bisa terancam. Jadi untuk menanganinnya memang harus ekstra hati-hati”, jelasnya.



Taufiqurochman menambahkan, pasukannya sesungguhnya lebih suka menyerbu di perairan internasional, karena jika terjadi di perairan Somalia, mereka sudah menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar. Mereka akan di-backup kekuatan dan senjata yang lebih masif. Secara politis, penanganannya pun akan lebih rumit. Sehingga keputusan untuk mengambil opsi militer sangat krusial sebelum kapal masuk perairan Somalia.

Jakarta tidak memiliki informasi pasti soal kekuatan pembajak. TNI berusaha mengontak kekuatan tempur koalisi yang ada di wilayah itu. Kontak pun terjadi dengan Combined Maritime Force, satgas angkatan laut multinasional yang berkedudukan di Bahrain. Di wilayah terdekat dengan TKP terdapat tiga task force, yakni Combined Task Force (CTF) 150 dan CTF-152 untuk maritime security operation, serta CTF-151 anticipacy. Di wilayah itu juga ada Standing NATO Maritime Group 2, European Naval Forces dan beberapa kekuatan independen dari Tiongkok, Rusia, dan beberapa negara.

KRI AHP dan KRI Yos Yudarso terus memantau dari perairan internasional dan menunggu momen yang tepat untuk bertindak.  Jika tidak ada perubahan, Taufiqurochman siap memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerbuan pada subuh esok harinya jika tidak ada perubahan situasi. Sambil menunggu dan terus memantau, tim Denjaka dan sat-81 berlatih dengan sea-rider, sementara Pasukan Katak TNI AL pun ikut berlatih.

Ketika sedang berlatih itulah, sore harinya datang berita dari Jakarta. Panglima TNI memerintahkan untuk menunda serbuan. Pemilik MV Sinar Kudus rupanya tidak mau kapalnya diserbu. Mereka datang bernegosiasi soal uang tebusan untuk pembebasan kapal. “Bagi saya ini beban, karena dengan begitu kami harus merubah postur dari militer ke diplomasi”, cetusnya.

Tawar-menawar uang tebusan antara kepala perompak (Mohammed Salah) dengan negosiator dari Sinar Kudus (Maryandi, di Jakarta) berlangsung alot dan lama sekali, hingga berminggu-minggu. Tawar-menawar dilakukan lewat surel, ketegangan terjadi di atas kapal dan tekanan psikologis turut menyertai awak Sinar Kudus.

Tebusan yang semula diminta sebesar 9 juta dolar akhirnya berhasil diturunkan menjadi 3 juta dolar. Pihak perompak Somalia akhirnya setuju dengan tawaran tersebut karena pihak MV Sinar Kudus di Jakarta menyatakan tak bisa menjamin kapal perang  Indonesia akan tetap tinggal diam.

Di tengah situasi yang sudah mulai tenang, tiba-tiba muncul berita bahwa MV Sinar Kudus tengah mengangkut material yang sangat berharga, bijih nikel senilai Rp 1,3 trilyun. Ketegangan pun kembali terjadi di atas kapal, satu dari empat kelompok perompak yang dipimpin Farrah memaksa menaikan kembali uang tebusan.

Farrah bahkan berniat membeli MV Sinar Kudus. Ia kemudian membuka negosiasi baru dengan pemilik kapal. Perseturuan antar kelompok perompak pun tak terhindarkan, bahkan mereka saling baku tembak. Farrah beserta dua anggotanya akhirnya kalah, lalu turun dari kapal dan mendarat kembali ke Somalia.

Pada 30 April disepakati uang tebusan dijatuhkan dari pesawat terbang sewaan yang telah diatur melintas di atas kapal. Uang dijatuhkan, sementara kapal dibawa ke utara, arah pantai Eyl, sembari mengantar perompak pulang.

Masalah kembali datang, kelompok Farrah masih terus membuntuti MV Sinar Kudus dan berhasrat untuk membajak kembali. Upaya yang dilakukan kelompok Farrah sempat dilaporkan awak MV Sinar Kudus ke pihak KRI AHP, dan memang sudah diantisipasi sejak awal.

Awak MV Sinar Kudus pun menyiarkan sinyal mayday, yang untungnya didengar awak kapal perang AS USS Bainbridge (DDG-96) dan F-576 Esperro (AL Italia) yang sedang berpatroli di wilayah itu. Jarak skiff (kapal motor) perompak dengan MV Sinar Kudus sudah amat dekat. Taufiqurochman pun segera memerintahkan tim Denjaka dan Sat-81 mengamankan MV Sinar Kudus menggunakan tiga sea-rider.


Namun karena penggunaan sea-rider dirasa memakan waktu lama, Taufiqurochman perintahkan heli Bolkow yang membawa dua penembak dan seorang sniper dengan senapan 20 mm. Mereka terbang memotong lebih dulu laju skiff perompak. Dengan cepat heli Bolkow mendekati MV Sinar Kudus dan menghujani perompak dengan tembakan.

Laju skiff perompak pun cukup terhambat hingga memberi cukup waktu bagi pasukan yang dikerahkan KRI AHP untuk mendekat. Giliran sea-rider menembaki perompak tepat di skiff kelompok Farrah hingga semua yang berada di kapal motor itu tewas.

Tepat tanggal 1 Mei 2011 pukul 16.45 waktu setempat, MV Sinar Kudus berhasil diamankan sepenuhnyaoleh tim gabungan yang dinamakan Tim Duta Gabungan I.

Sumber: Angkasa

Postingan terkait: