Cerita Panglima TNI Soal Patriotisme Indonesia, Singapura, dan Malaysia



INDOSEJATI.com - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan bahwa kalimat 'merdeka atau mati' tak berlaku di negara Malaysia dan Singapura. Dia mengatakan bahwa para pemuda dari dua negara tersebut takut mati.

"Maka begitu pemudanya bersumpah satu bangsa satu tanah air satu bahasa, ada energi sosial yang dikembangkan, 'Merdeka atau mati'. Kata-kata merdeka atau mati tidak bisa di Malaysia, di Singapura, karena mereka takut mati. Orang Indonesia siapapun dia pasti mengalir darah patriot, pasti," ucap Gatot saat memberi kuliah umum di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat.

Gatot menyampaikan perjuangan Indonesia selama lebih dari 300 tahun melawan penjajah diawali dari pemuda. Gatot juga menilai para pemuda saat itu menanggalkan ego kedaerahannya masing-masing saat mengikrarkan sumpah pemuda.

"Dilihat dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia 300 tahunan, diawali oleh seorang pemuda, dokter Soetomo yang mendirikan Budi Oetomo, dan setelah 20 tahun yang disatukan pemudanya. Sumpah pemuda, satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, tidak melihat itu Jong Java, Jong Celebes, tidak," beber Gatot.

Bahasa Indonesia disebut Gatot tidak diambil dari satu suku mayoritas saja. Namun, hal tersebut diambil dari Gurindam duabelas ciptaan Raja Ali Haji Satu.

"Bahasa Indonesia bukan diambil dari bahasa Jawa yang banyak penduduknya, bukan, tapi dari Gurindam 12. Itulah sebenarnya lahirnya Bhinneka Tunggal Ika," tegasnya.

Gatot juga mengatakan dirinya berani bersayembara untuk mencari suku yang tak memiliki tarian perang bahkan senjata. Dia mengiming-imingi hadiah sebesar Rp 50 juta bagi siapaun yang menemukannya.

"Sekarang saya bersayembara mengapa disebut patriot, carikan saya suku yang tidak ada tarian perangnya. Satu suku saja, saya kasih hadiah Rp 50 juta kalau ada. Senjata juga. Carikan suku yang tidak ada senjata perangnya, kalau ada Rp 50 juta juga," ucap Gatot.

"Orang-orang yang patriot itu, dia tidak usah disuruh kalau lihat ada orang lemah, kewajibannya membantu," sambungnya.

Tak hanya itu, Gatot mengatakan bahwa kalimat 'gotong-royong' tak dimiliki oleh negara lain. Gatot memaparkan bahwa peran pemuda begitu strategis dalam pembangunan bangsa.

"Ketiga, carikan selain bahasa Indonesia "gotong-royong", bahasa lainnya dari bahasa manapun seperti Inggris, Arab, Italia, tidak ada. Makanya dirumuskanlah merdeka atau mati, karena pemuda bergotong royong. Itulah maknanya, betapa strategisnya pemuda," papar Gatot.

Gatot juga mengajak kepada seluruh pemuda untuk mewujudkan bahwa Indonesia sebagai bangsa pemenang. "Maka saya mengambil judul mari kita berjuang dan bergotong royong mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa pemenang!" serunya.



Sumber:http://news.detik.com/berita/d-3347246/cerita-panglima-tni-soal-patriotisme-indonesia-singapura-dan-malaysia

Postingan terkait: