Operasi Jakarta: Konspirasi Kudeta di Chile


INDOSEJATI.com - 51 tahun lalu terjadi peristiwa penting yang menimbulkan perubahan besar di bidang politik, ekonomi dan budaya, yaitu Gerakan 30 September. G30S menurunkan kekuasaan Orde Lama dan menjadi awal datangnya Orde Baru. Gerakan ini bermula dari penculikan dan pembunuhan jenderal TNI, berlangsung dalam beberapa jam dan berhasil dipatahkan.

Dampak ikutannya luar biasa besar termasuk pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI. Kekuasaan Presiden Soekarno jatuh dan berdirilah Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.

Hingga sekarang, misteri yang menaungi gerakan ini belum kunjung terpecahkan. Penelitian sejarawan dalam berbagai versi menunjukkan latar belakang dan tujuan yang berbeda dari gerakan ini. Versi pertama adalah versi pemerintah Orde Baru. Versi ini G30S adalah kudeta yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Pancasila.

Versi kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Ben Anderson dan Ruth McVey atau dikenal dengan Cornell Paper. Kesimpulannya, peristiwa G30S merupakan puncak konflik intern di tubuh Angkatan Darat. Versi penelitian Prof Wertheim, seorang sejarawan Belanda, mendukung tesis tersebut juga menambahkan keterlibatan Sjam Kamaruzjaman sebagai agen ganda untuk PKI dan AD.

Versi keempat adalah versi yang ditulis oleh John Hughes dan Antonie C Dake. Menurut mereka Sukarno adalah otak di balik gerakan ini. Versi kelima berasal dari pandangan Peter Dale Scott yang menyatakan bahwa ada keterlibatan pihak asing dalam Peristiwa G30S. Mereka menuding keterlibatan agen intelijen Amerika Serikat yaitu CIA yang merancang sebuah konspirasi dengan tujuan untuk menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno. CIA dianggap bekerja sama dengan sebuah klik Angkatan Darat untuk memprovokasi PKI. Ada pula versi terbaru dari John Roosa dalam Pretext for Mass Murder, di mana salah satu kesimpulannya G30S adalah langkah yang dilakukan elit PKI tanpa sepengetahuan pimpinan partai lain. Menurut Roosa, terdapat dua kelompok pimpinan, yakni kalangan militer yang dekat dengan PKI dan Biro Chusus PKI

Delapan tahun setelah peristiwa G30S, tepatnya 11 September 1973 di Santiago, Cile, terjadi insiden yang berakibat tergulingnya pemerintahan Presiden Salvador Allende. Sang presiden yang dipilih secara demokratis, digulingkan oleh kudeta tentara pimpinan Agusto Pinochet dalam kudeta berdarah. Kudeta ini didukung CIA dengan nama sandi " Jakarta Operation."

Nama sandi Operasi Jakarta karena kudeta itu mirip dengan kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto. Beberapa pola yang mirip antara lain adalah beredarnya dokumen tentang perencanaan pembunuhan para jenderal dan komandan militer. Di Indonesia disebut dengan isu Dewan Jenderal. Kemiripan lain, beredar selebaran dan surat di kalangan militer dengan sandi Djakarta Se Acerca (Djakarta sudah dekat), mengacu pada pembunuhan pimpinan tinggi militer.

Tudingan bahwa AS terlibat juga didasarkan pada kawat Dubes AS untuk Indonesia ketika itu Marshal Green dimana ada kata-kata "Dengan konsep ini segala sesuatu yang kita lakukan bagi Angkatan Darat akan bersifat sangat hati-hati dan rahasia." Kata rahasia itu disebut sebagai bukti AS terlibat. Green dalam bukunya Indonesia: Crisis and Transformation 1965-1968, membantah keterlibatan AS. Dia menjelaskan maksud kata rahasia dalam kawat itu yaitu bantuan obat-obatan dan walkie talkie. "Kedutaan besar dan Washington sepakat sepenuhnya bahwa AS jangan terlibat dalam kejadian ini. Kejadian-kejadian di Indonesia jauh di seberang jangkauan kemampuan kami untuk mengawasinya," tulis Green.

Meskipun demikian, dugaan bahwa AS terlibat masih terus muncul. Banyak yang menyamakan naiknya kekuasaan militer di Indonesia dan Cile sama-sama didukung CIA. Salah satu dasarnya adalah pengakuan mantan pejabat CIA Ralph McGeehe.

Jika Cile secara jelas menyebut jatuhnya Allende akibat kup oleh Pinochet, di Indonesia masih menjadi misteri apakah betul terjadi kup militer terhadap Soekarno. Yang mirip dari Cile dan Indonesia, akibat pergantian kekuasaan itu, ribuan orang mati terbunuh dan dipenjarakan. Baik Soeharto dan Pinochet sama-sama menjelma menjadi kekuasaan diktator selama puluhan tahun.

Tentang simpang siur seputar G 30 S, Dosen Fisip Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Sukowidodo, mengatakan, perlu ada pelurusan tentang apa yang sesungguhnya terjadi. "Agar generasi-generasi masa depan tidak salah mengartikan sejarah," katanya.


Sumber: Merdeka.com

Postingan terkait: