Helicopter Canggih Agusta Westland Milik TNI Yang 'Bermasalah'



INDOSEJATI.com - TNI AU membeli helikopter mewah AgustaWestland (AW)-101 dari Inggris. Setelah helikopter tiba di Indonesia, masalah baru terbongkar. Proses pembelian helikopter kelas VVIP ini bermasalah.

Pada tahun 2015, TNI AU mengusulkan pembelian helikopter seharga 55 juta dolar Amerika itu kepada Kemensesneg. TNI AU mengusulkan helikopter AW-101 dijadikan helikopter kepresidenan, menggantikan helikopter Super Puma. Namun, Presiden Joko Widodo menolak, sehingga usulan itu dimentahkan.

Siapa nyana, TNI AU tetap membeli helikopter mewah itu. Namun, heli yang hanya satu unit bukan lagi dijadikan helikopter VVIP, hanya dijadikan alat angkut pasukan. Proses pembelian dilakukan secara tertutup di era KSAU Marsekal Agus Supriatna. Helikopter AW-101 sampai ke Indonesia pada akhir 2016.

Saat helikopter sampai, masalah baru terkuak. Beberapa pihak saling lempar soal pembelian heli ini. Hingga akhirnya, KSAU yang baru Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan pembelian helikopter AW-101 menggunakan anggaran TNI AU.

Hadi langsung membentuk tim investigasi untuk menyelidiki proses pengadaan alutsista ini. Meski sudah sampai di Indonesia, AW-101 tidak bisa langsung digunakan. Saat ini, heli tersebut terparkir di hanggar Lanud Halim Perdanakusuma. Police line dipasang mengelilingi helikopter. Heli baru bisa digunakan setelah proses identifikasi selesai.


***
Helikopter AW 101 adalah jenis angkut kelas berat mampu membawa muatan seberat 5ton, berkapasitas 38 penumpang dengan 2 pilot. Dibuat sejak tahun 1999, AW 101 saat ini dioperasikan di 13 negara.

Menurut info dari Janes IHS, TNI AU membeli 3 heli AW 101 ini lengkap dengan suku cadang, peralatan kerja, serta paket pelatihannya. Dan tentunya juga dibarengi transfer teknologi.

Selain untuk fungsi SAR dan menjalankan fungsi anti kapal selam , 1 Helikopter akan digunakan sebagai Helikopter Kepresidenan.

Pelengkapan FLIR maupun persenjataan di pintu (door gun) akan dipasang di Indonesia sebagai bagian dari transfer ilmu dan kandungan lokal (local content).

“FLIR 380HDc, trakka, defence aid system, window gun, 12 stretchers, trooper seats, pilot armor seat, double life raft kiri dan kanan, emergency water landing, semua infrastrukturnya sudah disiapkan dan akan dipasang di Indonesia sebagai bagian transfer teknologi. Untuk senjata akan digunakan buatan Pindad sebagai kandungan lokal,” ujar sumber seperti dikutip dari angkasa.

Untuk pendidikan kru dan teknisi akan dilanjutkan di Indonesia selama 24 bulan sebagai bagian transfer of knowledge bagi teknisi bagian mekanik maupun avionik.

Hal baru yang dibawa AW 101 dibandingkam helikopter yang dimiliki TNI AU saat ini, AW101 memiliki ramp door (pintu rampa) di bagian belakang badan. Pintu rampa memudahkan mobilitas pasukan, penerjunan, pengangkutan barang, senjata, maupun pengangkutan kendaraan taktis sesuai dimensinya. Pintu rampa juga berguna untuk menembak sasaranyang membuntuti dari belakang.

Dari sisi kapasitas, AW 101 yang dibuat murni sebagai heli militer ini mampu mengangkut personel lebih banyak. Helikopter ini mampu memuat 30 prajurit bersenjata lengkap dengan posisi duduk, atau 45 prajurit bersenjata lengkap dalam posisi berdiri.
AW101 memiliki dimensi panjang 19,53 meter, diameter rotor 18,59 meter, dan tinggi 6,62 meter. Heli ditenagai tiga mesin Rolls-Royce Turbomeca RTM322-01 turboshaft 1.566 kw (2.100 shp) tiap mesin. Heli mampu terbang selama enam jam dan kecepatan maksimum 309 km/jam (167 knot). Sementara jarak jelajah mencapai 833 km.



Sumber: Angkasa

Postingan terkait: