Heboh!! Orang Indonesia Jadi Agen Mata-Mata & Bunuh Kakak Presiden Korut Kim Jong Un


INDOSEJATI.com - Dua wanita tersangka pembunuh Kim Jong-nam, kakak tiri diktator Korea Utara (Korut) Kim Jong-un, termasuk yang berpaspor Indonesia untuk sementara akan dipenjara tujuh hari di Malaysia. Intelijen Korea Selatan mengklaim para tersangka itu adalah agen mata-mata yang bekerja untuk rezim Korut di bawah perintah Kim Jong-un.

Satu dari dua wanita itu berpaspor Indonesia atas nama Siti Aishah, asal Serang, Jawa Barat, dengan tanggal lahir 11 Februari 1992.

Wanita berpaspor Indonesia itu ditangkap oleh aparat polisi Malaysia. Pada hari Rabu, polisi Malaysia menangkap tersangka pertama yang menggunakan paspor Vietnam atas nama Doan Thi Huong.

Kepolisian Diraja Malaysia mengatakan, dua tersangka tersebut akan dipenjara selama tujuh hari ke depan sampai polisi menangkap para tersangka lain yang diperkirakan berjumlah empat orang.

Beberapa jam setelah penangkapan tersangka pemegang paspor Indonesia, Kepala Polisi Negara Bagian Selangor, Abdul Samah, mengungkapkan bahwa kedua tersangka atas nama Siti Aishah dan Doan Thi Huong akan diadili.

Intelijen Korea Selatan telah mengklaim bahwa para tersangka bekerja di bawah perintah dari rezim Korut yang dipimpin Kim Jong-un. Para tersangka dilaporkan menyerang Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Senin, 13 Februari dengan racun sebelum akhirnya melarikan diri dengan naik taksi.

Pejabat senior polisi Malaysia Mohamad Fauzi Harun juga menduga para tersangka sebagai agen mata-mata asing. “Kami memiliki alasan untuk percaya bahwa ini mungkin pekerjaan agen-agen asing. Ada pasti individu lain yang terlibat, selain dari dua penyerang ini,” katanya, seperti dikutip IB Times.


Sempat Minta Ampun
Kim Jong-Nam, saudara tiri Presiden Korea Utara Kim Jong-Un, sempat memohon pengampunan setelah upaya pembunuhan terhadap dirinya pada 2012, demikian yang diungkapkan badan intelijen Seoul. Ia akhirnya tewas adalah dugaan pembunuhan di bandara Malaysia, yang dilakukan dua mata-mata Korea Utara.

Upaya pembunuhan terhadap Kim Jong-Nam ini menggambarkan bahaya yang dilahirkan di dalam dinasti brutal ini.

Sebagaimana diketahui, putra tertua dari mendiang mantan pemimpin Kim Jong-Il, meninggal setelah dilaporkan diserang oleh dua perempuan - yang menurut Seoul adalah agen Korea Utara - di Bandara Internasional Kuala Lumpur.

Dia pernah dipandang sebagai pewaris tetapi diabaikan setelah upayanya yang memalukan untuk memasuki Jepang dengan paspor palsu pada 2001.

Keluarga Kim telah memimpin Korea Utara dengan tangan besi sejak dibentuk pada 1948.

Namun, setelah tidak terpilih sebagai pewaris, Jong-Nam hidup di pengungsian, terutama di wilayah Makau, Cina. 

Meski menjadi anak paling muda, Jong-Un mengambil alih kekuasaan negara bersenjata nuklir itu setelah kematian ayahnya pada Desember 2011.

Dan meski Jong-Nam menjaga jarak dari kehidupan politik dalam negeri, Korea Utara pada 2012 mencoba membunuhnya, ungkap anggota parlemen Seoul, menyusul pertemuan tertutup yang dilakukan oleh kepala Dinas Intelijen Nasional (National Intelligence Service/NIS), Lee Byung-Ho.

"Menurut (Lee)… ada satu upaya pembunuhan pada 2012, dan Jong-Nam pada April 2012 mengirim surat kepada Jong-Un yang isinya 'Tolong ampuni saya dan keluarga saya',” ungkap anggota komite intelijen parlemen Kim Byung-Kee kepada wartawan, seperti dilansir dari Antara.

Kematiannya menggaungkan nasib yang juga dialami oleh pamannya Jang Song-Thaek, yang dieksekusi di Pyongyang pada Desember 2013 atas tuduhan pengkhianatan dan penyuapan.

Jong-Nam adalah anak tertua Kim Jong-Il dari istri pertamanya, dan di negara yang sangat patriarkal itu, anak pertama dianggap sebagai penerus keluarga. 

Kim Il-Sung menyerahkan kekuasaannya pada putra pertamanya, Kim Jong-Il selepas kematiannya pada 1994.

Tapi kekuasaan selanjutnya diteruskan pada Jong-Un, anak Jong-Il dari istri ketiga.

Jong-Nam dipercaya punya hubungan dengan elit Beijing-dia adalah sosok yang berani bicara, mengkritik sistem politik Pyongyang dalam beberapa kesempatan.

Pria 45 tahun itu pernah belajar di Moskow dan Jenewa, dia mengatakan "secara pribadi menentang" transfer kekuasaan yang diturunkan secara turun temurun di keluarganya sendiri, demikian kata Jong-Nam saat wawancara dengan TV Jepang Asahi 2010.


Sumber: Sindonews


Postingan terkait: