Australia Cuma Kucing Kertas Di Laut China Selatan


INDOSEJATI.com - Media pemerintah China menyatakan “Australia sebagai target yang ideal bagi China untuk diperingatkan dan diserang” jika terus berkelana di wilayah sengketa Laut China Selatan sebagai penghinaan terhadap negara itu.

Global Times, yang dikenal sebagai nasionalis garis keras mengeluarkan editorial mengecam Canberra pada hari Sabtu, di sebuah opini berjudul “Kucing Kertas Australia Akan Mendapat Pelajaran”, karena mendukung putusan pengadilan arbitrase internasional 12 Juli lalu di Den Haag melawan klaim sejarah Beijing pada Laut China Selatan.

Beijing mengecam keputusan dan telah menolak untuk mematuhi temuan pengadilan ini dengan alasan bahwa pengadilan tidak memiliki yurisdiksi diperlukan karena China tidak pernah diajukan ke arbitrase bilateral – posisi yang didukung oleh para sarjana hukum yang memiliki pendapat bahwa permintaan Filipina secara sepihak mengangkat ke pengadilan unilateral atas masalah itu tidak mengikat.

Australia, bergabung dengan Amerika Serikat dan Jepang, segera meminta Beijing untuk bertindak sesuai dengan putusan pengadilan itu sebagai tanggung jawab China di bawah hukum internasional meskipun fakta bahwa Canberra, Washington, dan Tokyo bukan bagian dalam sengketa wilayah.

Nasionalis China belum ambil bagian atas tekanan untuk melepaskan kontrol atas perairan Laut China Selatan yang berharga dan pulau-pulaunya, di mana sekitar US $5.3 trilyun atau 30% dari perdagangan maritim dunia melewatinya dan disana terdapat deposit minyak bawah laut terbesar didunia – kehilangannya akan mewakili kemunduran besar bagi ambisi Beijing.

Global Times memukul balik dengan menyebut Australia sebagai “negara dengan sejarah memalukan” sebagai “sebuah penjara lepas pantai pertama Inggris” dan telah “didirikan melalui cara-cara tak beradab, dalam proses yang penuh dengan air mata dari penduduk asli.”

Editorial ini juga mengecam posisi vokal Australia yang bertentangan dengan Beijing pada sengketa Laut China Selatan sebagai upaya terang-terangan untuk menjilat pada Amerika Serikat dengan mengatakan bahwa Canberra “bermaksud untuk menekan China agar mendapatkan tawar-menawar untuk kepentingan ekonomi.”

“China harus membalas dendam dan biar (Australia) tahu kalau itu salah,” kata editorial. “Kekuatan Australia tak berarti apa-apa dibandingkan dengan keamanan China. Jika Australia melangkah ke perairan Laut China Selatan, itu akan menjadi target ideal bagi China untuk memperingatkan dan menyerang”.

Editorial ditutup dengan akhir yang memalukan bahwa “Australia bahkan bukanlah macan kertas, melainkan hanya seekor kucing kertas belaka”.

Euan Graham, direktur Program Keamanan Internasional di Lowy Institute di Sydney mengatakan editorial tersebut “hinaan yang memalukan, hanya retorika mengancam dengan beberapa takik” dan ia berharap bahwa “itu akan menyadarkan beberapa orang di Australia untuk sisi gelap dari chauvinisme China”.

Menurut analis keamanan, bagaimanapun tidak percaya bahwa komentar tersebut akan naik ke tingkat yang membutuhkan respon oleh pemerintah Australia meskipun agresif tak terbantahkan.

“Ini tidak pantas mendapatkan tanggapan resmi dari Australia, meskipun pada hari-hari yang akan datang beberapa pesan dari sekutu AS memastikan mungkin akan disambut di sini”, katanya.

Sumber: Global Times

Postingan terkait: