Pro Kontra Ceramah Kontroversi Cak Nun Tentang 'Maaf Pada PKI'


INDOSEJATI.com- Beberapa waktu terakhir, ceramah Emha Ainun Nadjib atau biasa disapa Cak Nun menuai kontroversi. Apalagi sejak ceramah-ceramahnya diunggah di situs Youtube, tak sedikit kalangan yang melemparkan kritik pedas dan mem-bully budayawan Padhang Mbulan ini. Sejumlah ceramah yang sempat menuai kontroversi itu antara lain terkait sikap dia atas peristiwa 1965, sikapnya pada demokrasi, dan sikapnya kepada kepala negara Jokowi.

Terkait peristiwa 1965, Cak Nun dalam siaran Youtube tersebut, secara tegas menolak jika negara harus meminta maaf kepada korban 1965. Menurutnya, permintaan maaf itu sama halnya membenarkan sikap kekejian PKI kala itu. Bahkan, hal itu sama dengan mengulang kembali tragedi berdarah 1965. Dengan bahasa khas banyolannya, Cak Nun menyebutkan mayat-mayat korban kekejian 1965 kala itu mengapung di Sungai Brantas. Mayat-mayat lantas dijadikan mainan anak-anak.

“Ya ’65 adalah karena PKI bunuh jendral di lubang buaya, waktu itu di Brantas ratusan mayat terbawa arus setiap hari, untuk mainan, dilempari batu, ada goni isi kemaluan, hahahahaha … kalo sekarang mau perang lagi sangat menyenangkan, arek-arek sangat suka hahahahahaha jangan pernah minta maaf.” Demikian sebagian kutipan ceramah Cak Nun.

Sejumlah kalangan menyesalkan ceramah Cak Nun yang dinilai kurang bijak dan kurang kritis menyikapinya. Cak Nun bahkan sempat dianggap kurang peka terhadap penderitaan korban lainnya (non-PKI) yang sesungguhnya hanya tumbal politik.

Kritikan itu kian panjang ketika seorang seniman Bramantyo Prijosusilo juga memosting ceramah Cak Nun tersebut di akun Facebook-nya. “Kenali manusia dari kawan-kawannya. Peneguhan Fitnah ’65 oleh Emha Ainun Najib, sekaligus pengabsahan kekejaman di luar kemanusiaan. Ingin latihan militer …” demikian tulis Bramantyo.

Postingan ini langsung memantik puluhan bahkan seratusan lebih komentar miring kepada Cak Nun. Mulai bernada satir, pedas, hingga yang menyatakan ketidakpercayaan bahwa orang sekelas Cak Nun bisa mengatakan hal yang demikian itu. Bram lantas kembali menuliskan postingan berikutnya, terkait ceramah Cak Nun di Youtube.

Berikut isi postingannya: Saya sangat jarang menyinggung Cak Nun: sekali ku-share status Zen Zulkarnaen, dua kali saya share rekaman di Youtube di mana di rekaman yang satu ia berkata-kata rasis anti Cina dan Yahudi sekaligus menyebar teori konspirasi, dan di rekaman yang kedua ia meneruskan Fitnah’65, melecehkan penderitaan korban pelanggaran berat HAM dan setengahmengancam akan terjadi lagi Fitnah’65 tersebut, dengan kalimat-kalimat yang sangat banal dan melukai rasa kemanusiaan saya.

Meski Cak Nun adalah seorang guruku, kukenal sejak usia remajaku, dan saban ketemu pasti kucium tangannya mengharapkan barokah, tentu saja saya berkewajiban melawan propaganda anti HAM, anti Demokrasi, dan pro Fitnah’65 yang beliau lakukan. Sementara beliau melakukan propaganda menyesatkan tersebut di media sosial, tentu sepadan bila saya melawannya juga di media sosial.

Tanpa mengurangi rasa hormat, segan dan cinta saya kepada beliyo sebagai senior, saya mengakui bahwa saya samasekali bukan lawan sepadan beliyo yang berkelas Begawan. Tapi itu bukan berarti saya boleh tidak melawannya. Maafkan, Cak Nun, kewajiban adalah kewajiban.

Terlepas, dari pro konta ceramah Cak Nun itu, kita perlu bersikap arif dan tak ada salahnya bertabayun langsung kepada yang bersangkutan. Harapannya, agar tak ada pihak-pihak lain yang sengaja memanfaatkannya untuk kepentingan memecah belah bangsa.

Inilah link ceramah Cak Nun yang sempat mengundang kontroversi itu.

https://www.youtube.com/watch?v=YSb4wrCAjdk


Sumber:http://embunhikmah.com/cermin/ceramah-kontroversi-cak-nun.html

Postingan terkait: