Indonesia Tolak Claim China; Sumber Migas Asia Di Laut Natuna


INDOSEJATI.com- Pemerintah Kabupaten Natuna menyebutkan jumlah cadangan migas di ladang gas Blok D-Alpha merupakan kekayaan paling fenomenal dengan mencapai 222 triliun kaki kubik.

Hal itu dipaparkan dalam Rencana Strategis Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Natuna 2012-2016, yang menjelaskan bahwa wilayah tersebut kaya dengan sumber daya alam, terutama bahan galian, macam minyak dan gas bumi. Luas kabupaten itu adalah 264.198 kilometer persegi dengan 154 pulau.

“Potensi kekayaan Natuna yang paling fenomenal adalah cadangan migas di ladang gas Blok D-Alpha,” demikian keterangan dokumen tersebut yang dikutip Kamis, (23/6). “Dengan taksiran total cadangan 222 triliun kaki kubik, dan gas hidrokarbon 56 triliun kaki kubik, merupakan salah satu sumber terbesar Asia.”

Dinas itu menyatakan potensi migas di Kabupaten Natuna terletak di lepas pantai Laut Natuna dengan 11 kontraktor, sementara jumlah wilayah kerja perminyakan berjumlah 13 lokasi. Sumur minyak yang ada di wilayah Natuna adalah 227 sumur dengan 153 sumur eksplorasi, 34 sumur dalam tahap kajian, dan 40 sumur dalam tahap pembangunan.

Cadangan minyak bumi di Kabupaten Natuna mencapai 298,81 juta barel minyak, sedangkan cadangan gas bumi mencapai 55,3 triliun kaki kubik. Laporan itu menyatakan dengan estimasi produksi maksimum 1 triliun kaki kubik per tahun, diperkirakan umur cadangan mencapai 50-100 tahun.

Terdapat 13 perusahaan minyak yang beroperasi di kabupaten tersebut. Mereka adalah Conoco Philips Indonesia; Genting Oil Natuna; Indoreach Exploration; Lunding Oil & Gas BV; Peal Oil; Premier Oil Natua Sea BV; Sayen Oil and Gas PTE LTD; Star Energy LTD; Titian Resources Indonesia LTD; West Natuna Exploration LTD; dan Pertamina EP. Wilayah kerjanya pun pelbagai macam di antaranya adalah South Natuna Sea Block B; Cakalang Blok; Kerapu Block dan Natuna Sea Block A.

Laporan itu juga menyebutkan Blok D Alpha merupakan salah satu isu strategis yang harus diselesaikan di sektor energi dan sumber daya alam. “Belum optimalnya pengembangan Blok D Alpha untuk eksploitasi migas,” demikian Dinas Pertambangan dan Energi.


Tolak Dashlined China

China terus memperkuat klaimnya di Laut China Selatan berdasarkan peta kuno 9-Dashed Line (9 garis putus), yang mana hampr 90 persen Laut China Selatan masuk ke dalam 9-Dashed Line. Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan memberikan penolakan atas klaim China tersebut.

Indonesia menurut Luhut, tidak mengakui adanya 9-dashed line. Luhut juga menyampaikan ingin adanya kebebasan bernavigasi di kawasan Laut Cina Selatan.

“Kita tidak akui 9 border line, kita tidak mau ada power projection di wilayah itu. Kita harus tetap ada freedom of navigation,” ujar Menko Polhukam di kantor Perindo, Jl. Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (13/6/2016).

Nine dash line meruoakan garis yang dibuat Pemerintah Tiongkok di Laut Cina Selatan sebagai wilayah tradisional fishing ground mereka. Garis tersebut meliputi wilayah Philipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia. Pemerintah Indonesia sadar dan menolak klaim Tiongkok tersebut, karena adanya multi intrepretasi, overlaping wilayah yang diklaim oleh Tiongkok.

Wilayah Indonesia yang masuk dalam 9 dash line adalah Kepulauan Natuna khususnya Natuna Timur. hal yang menjadi dasar penolakan pemerintah Indonesia adalah adanya potensi cadangan gas bumi sebesar 222 Tcf dan gas yang bisa diproduksi sebesar 45 Tcf dengan lapangan utamanya di Natuna D Alpha.

Sebelumnya, Tiongkok memasukkan sebagian wilayah perairan laut Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, ke dalam peta wilayah mereka atau yang dikenal dengan Nine Dash line.

Tiongkok mengklaim wilayah perairan Natuna merupakan wilayah laut mereka. Klaim sepihak ini terkait sengketa Kepulauan Spratly dan Paracel antara China dan Filipina. Sengketa ini dapat berdampak besar terhadap keamanan laut Natuna.

Sumber : CNN Indonesia



Postingan terkait: