Tulisan Ki Hajar Dewantara yang Membuat Belanda Marah


INDOSEJATI.com- Tanggal 2 Mei memang mengingatkan kita pada salah seorang tokoh nasional, Ki Hadjar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Salah satu ajarannya yang yang banyak dikenal orang ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

Tapi mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa salah karya tulisnya yang juga terkenal pada masa penjajahan Belanda adalah yang berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Seandainya Aku Seorang Belanda. Apa menariknya dari tulisan ini? Dan apa kaitannya dengan pendidikan nasional?

Tulisan itulah yang konon membuat pemerintah Belanda kebakaran jenggot dan melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) kepada Ki Hadjar Dewantara. Ia pun akhirnya dihukum buang ke Pulau Bangka.

Yang menarik dari tulisannya adalah yang berbunyi, “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.

Tulisan ini muncul sebagai reaksi atas keinginan pemerintah Belanda pada waktu itu untuk merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Jelas tidak masuk akal dan jauh dari nilai nilai kemanusiaan mengadakan perayaan diatas penderitaan. Kondisi inilah yang ingin ia munculkan ke permukaan sebagai bentuk sindiran kepada pemerintah kolonial.

Jika kita coba mengambil pelajaran dari tulisan tersebut, ada beberapa hal yang patut kita renungkan untuk mengurai benang kusut permasalahan pelik di negeri ini. Pertama, dari nilai kemanusiaan. Bangsa ini memang sedang didera oleh berbagai penderitaan dan permasalahan yang berkepanjangan, dari masalah ekonomi yang masih saja terpuruk, kemiskinan semakin merajalela, pendidikan yang terus diliputi kemelut soal Ujian Nasional yang kontroversial, mulai munculnya berbagai kasus kasus yang membawa isu agama, ras dan kepentingan partai tau golongan tertentu dan masih banyak lagi.

Tulisan itu adalah pesan yang sangat mendalam bagi orang orang yang sudah mendapatkan ‘kepercayaan’ dari rakyat untuk lebih peka terhadap permasalahan bangsa. Rakyat memang tidak banyak yang tau. Yang hanya mereka berikan hanya pajak, kepercayaan, suara suara, dan optimisme bahwa mereka akan mendapat timbal balik yang layak sesuai dengan apa yang telah mereka ‘bayar’ terhadap negara atau wakil wakil mereka. Tulisan itu juga mengisyaratkan pesan kepada sang ‘pemangku’ kepercayaan rakyat untuk melihat bahwa rakyat masih susah mendapatkan akses pendidikan sesuai dengan hak mereka, mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak sebagaimana yang mestinya, dan bahkan yang mereka pikirkan masih belum bisa keluar dari lingkaran perut dan hidup hari ini, entah esok bagaimana, tidak terbayang di benak mereka.

Kedua, dari nilai kemerdekaan, secara de yure bangsa ini memang telah merdeka selama hampir 63 tahun silam, tapi secara de facto, barang kali ada hal yang memerlukan kehati hatian kita untuk menilai sebuah ‘kemerdekaan’ dalam konteks pendidikan di negeri ini. Dari tahun ke tahun , pendidikan di negeri ini memang tak luput dari berbagai permasalahan yang mendasar. Jika dibandingkan dengan negara negara yang lebih maju, perbedaan pendidikan mereka dan pendidikan di negara negara dunia ketiga, dalam hal ini Indonesia adalah terletak pada ‘orientasi’nya.

Negara negara maju sudah memiliki konsep dan tujuan yang jelas, spesifik dan terarah, apa yang akan mereka raih 30-50 tahun kedepan, termasuk dalam memberikan beasiswa kepada para generasi bangsa ini. Mereka memang tidak bersedia mengeluarkan dana yang besar dengan beasiswa beasiswa untuk putra putri bangsa ini dengan tanpa tujuan. Lulusan –lulusan luar negeri dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosial, politik, pendidikan, tehnik dan lain sebagainya, harus diakui telah banyak memberikan ‘warna’ bagi bangsa ini. Jelas, pemberian beasiswa dari mereka bukan tanpa tujuan. Meminjam istilah Arie Sadewo, there is no free lunch. Konsep pendidikan di negeri ini telah banyak dipengaruhi oleh warna warna tersebut yang disatu sisi akan sangat bermamfaat bagi generasi bangsa kedepan, tapi disisi lain, jati diri bangsa sendiri jangan sampai ditinggalkan untuk menghasilkan rumusan rumusan kebijakan yang memang sesuai dengan kondisi riil bangsa ini.

Di sisi lain, kita memang patut bangga atas prestasi yang diraih oleh putra putri Indonesia dalam ajang Olimpiade Fisika Asia (APhO) di Mongolia, 20–28 April 2008 yang lalu dengan meraih tiga emas, satu perak, satu perunggu, dan empat tanda penghargaan. Jangan sampai beberapa putra terbaik bangsa ini pindah ke negara lain hanya karena didalam sendiri kurang diperhatikan oleh pemerintah.

Secara individu memang mereka adalah putra putri terbaik bangsa, namun jika diakui secara jujur, berapa persenkah prestasi yang mereka ukir selama ini memang betul betul hasil dari pendidikan di sekolah? Bukankah mereka memang sudah mulai ikut bimbingan belajar, kursus atau pendidikan luar sekolah lainnya dari kecil? Andaikata mereka tidak ikut pendidikan luar sekolah apapun? Akahkah prestasi mereka segemilang saat ini? Kenapa beberapa tahun terakhir mulai menjamur bimbingan bimbingan belajar, kursus atau pendidikan luar sekolah lainnya yang menawarkan berbagai macam bimbingan dengan segala janji-janji mereka? Dan kenapa kok siswa-siswa yang banyak mengikuti bimbingan belajar dari awal cenderung lebih sukses dibanding yang lain? Apakah ini salah satu tanda ‘kekurangpercayaan’ terhadap pendidikan yang ada?

Jika diteliti lebih mendalam, fenomena menjamurnya bimbingan belajar hanya terjadi di Indonesia. Di negara negara maju hal tersebut bukannya tidak ada tapi prosentasenya tidak sebanyak di Indonesia. Kenapa demikian? Salah satu alasannya adalah pendidikan yang mereka peroleh di sekolah sudah dirasa lebih dari cukup jika dibandingkan dengan bimbingan belajar diluar sekolah. Fenomena inilah yang patut menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua terkait dengan potret pendidikan bangsa kita saat ini. Hal ini akan bisa berdampak negatif. Mau tidak mau faktor ekonomi akan menjadi penentu terhadap akses pendidikan. Singkat kata hanya mereka mereka yang memiliki pondasi ekonomi yang lebih baiklah yang bisa mengirim anaknya ke berbagai bimbingan belajar sehingga gap antara yang kaya dan miskin, pintar dan bodoh akan semakin tebal. Pendidikan yang terbaik untuk semua tanpa pandang bulu adalah hak setiap warga negara.

Hari pendidikan nasional ini seyogyanya bisa membangunkan kesadaran seluruh aspek pendidikan yang terkait untuk lebih bisa membawa pendidikan yang berasaskan kerakyatan sebagaimana yang pesan yang disampaikan oleh Bapak Pendidikan Nasional dalam filosofinya Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.


Sumber:https://kadaryanto.wordpress.com/2008/05/11/ki-hajar-dewantoro%E2%80%9Cseandainya-aku-seorang-belanda%E2%80%9D/

Postingan terkait: