HABIS GELAP TERBITLAH TERANG - RA Kartini Tokoh Emansipasi Wanita Yang Dikagumi Dunia


INDOSEJATI.com- Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini, putri asal Jepara ini dikenal sebagai salah seorang pahlawan wanita di Indonesia. Sumbangsih untuk memajukan kaumnya patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Tak heran jika sampai saat ini kelahiran Kartini masih terus diperingati. Salah satunya adalah dengan mengadakan pemutaran film dokumenter, seperti yang dilakukan Erasmus Huis, Sabtu (18/4).

Film tersebut diberi judul Noem mij maar Kartini. Kartini adalah seorang putri Bupati di daerah Jepara, ia tidak mempunyai nama belakang, atau pun nama tengah. Yang ada hanyalah gelar keluarga di depan namanya. Hidup pada abad ke-19 di Jawa saat pemerintahan Hindia-Belanda bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi bagi kaum perempuan. Banyak aturan tradisional yang harus dipatuhi, perempuan pada zaman itu tidak mempunyai kebebasan.

Hidup mereka terkekang dan terkurung dalam sangkar emas, itulah yang dirasakan Kartini. Sebelum dilarang sepenuhnya untuk keluar rumah, Kartini sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Belanda. Namun, itu tidak bertahan lama, ia dan adik perempuannya harus kembali ke 'sangkar' mereka. Merasa terkungkung, Kartini berusaha berontak.

Ia menuliskan beberapa artikel mengenai penderitaan yang dialami oleh para wanita di sekelilingnya. Beberapa artikelnya sempat dimuat surat kabar. Untuk membunuh rasa bosannya, Kartini juga sering membaca buku-buku yang berbahasa Belanda. Ia pun rajin menulis surat kepada Stella, sahabat penanya yang berada di Belanda.

Dalam surat yang ditulisnya menggunakan bahasa Belanda, Kartini secara lugas menceritakan keprihatinannya terhadap nasib perempuan-perempuan yang ada disekitarnya. Hak-hak mereka dirampas, dipaksa untuk menikah muda, mereka dilarang untuk bersekolah, dan masih banyak lagi. Kartini mempunyai keinginan untuk membawa kaumnya menuju masa yang lebih baik.

Impian Kartini lainnya adalah, ia ingin bersekolah di Eropa. Sehingga saat sang ayah menyuruhnya untuk menikah, Kartini langsung menolak. Ternyata penolakan tersebut menyebabkan ayahnya sakit keras, dokter yang mengobatinya menyarankan agar Kartini mengikuti kemauan sanga ayah, agar penyakitnya tidak semakin parah. Maka dengan sangat terpaksa Kartini menjadi istri keempat dari Raden Adi Pati Djoyo Adi Ningrat.

Setelah menikah impian Kartini tetap membara, ia terus berusaha untuk mencerdaskan kaum perempuan. Namun sayang, sebelum ia melihat cita-citanya telah terwujud, Kartini meninggal saat melahirkan putra pertamanya.

Masih Relevan

Surat-surat Kartini memang ditulis beberapa ratus tahun yang lalu. Namun sampai saat ini isi dari surat tersebut tetap relevan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Ia merasa takjub karena beberapa ratus tahun yang lalu, seorang Kartini sudah mempunyai pemikiran untuk memajukan kaum perempuan. "Kumpulan surat itu bukti kalau RA Kartini sudah mempunyai pemikiran yang jauh ke depan, jarang sekali orang yang seperti Kartini pada saat itu," kata dia.

Meutia juga merasa, kegiatan korespondensi yang dilakukan Kartini patut dicontoh perempuan saat ini, karena tukar-menukar informasi dapat dijadikan suatu cara untuk meningkatkan derajat perempuan.

Apresiasi yang sama juga ditunjukan oleh Nicholas Van Dame, Duta Besar Belanda untuk Indonesia . Menurutnya, memberikan inspirasi bagi masyarakat internasional. Sampai-sampai kumpulan surat Kartini itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.



Berikut ini beberapa penggalan surat R.A. Kartini dalam buku Door Duisternis Tot Licht (DDTL) atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya Habis Gelap terbitlah Terang :


“… dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” (Surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon 15 Juli 1902-DDTL, hal. 214)

“Aku masih melihat senyumnya yang membuat raut mukanya bercahaya ketika ia berkata: “Ah, ibu, aku mau hidup 100 tahun. Hidup ini terlalu pendek. Pekerjaan banyak sekali menunggu. Dan sekarang aku bahkan belum boleh memulai.” (R.A. Kartini kepada Nyonya Marie Ovink-Soer, yang sudah dianggap ibu oleh Kartini, sebagaimana ditulis Nyonya Marie dalam bukunya: Persoonlijke Herinnering aan R.A. Kartini)

“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada temannya Zeehandelaar, 9 Januari 1901)


Sumber:http://nasional.kompas.com/read/2009/04/18/18333115/Kumpulan.Surat.Kartini.yang.Memberikan.Inspirasi


Postingan terkait: