DENSUS 88 Sudah Diakui Dunia, POLRI Minta Tak Disudutkan



INDOSEJATI.com- Mabes Polri meminta masyarakat untuk tidak mengaitkan terorisme dengan agama tertentu, dalam hal ini Islam. Karena itu Densus 88 Anti Teror sendiri tidak menyerang suatu agama, tapi menumpas teroris.

"Saya ingin meluruskan Densus 88 Anti Teror tidak menyerang agama. Tapi teroris," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan, di Mabes Polri, Selasa.

Anton menegaskan hal tersebut terkait tewasnya SY atau Siyono.

Dia menegaskan, Siyono merupakan pentolan dari jaringan Jamaah Islamiyah di Indonesia yang bertugas sebagai Kepala Staf Pergudangan Persenjataan.

Keterlibatan SY ini berasal dari kesaksian terduga teroris yang telah terlibih dahulu tertangkap. Sebelmnya ditangkap AW, BR dan DE. AW yang menyimpan senjata. Dari keterangan AW, senjata itu telah diambil oleh SY.

"SY Kepala Staf Gudang Penyimpanan Senjata JI. Kami ingin tegaskan Densus 88 tidak salah tangkap. Tapi itu dari keterangan 3 saksi," paparnya.

Anton menegaskan, Polri akan segera membuka atau mempublikasi kesaksian dari tiga tersangka teroris, yang memberikan keterangan terkait keterlibatan SY serta posisinya.

"Densus 88 mau (Siyono) dalam kondisi hidup. Karena SY merupakan saksi kunci tentang keberadaan persenjataan JI," terangnya.

Karena itu dia meminta masyarakat untuk tidak menyudutkan Densus menyusul tewasnya Siyono. Anton menerangkan pentingnya keberadaan Densus 88 Anti Teror di Indonesia. Tindak terorisme merupakan musuh bagi semua negara. Bahkan proses penanganan terorisme di Indonesia sudah diakui bangsa lain. Dan negara-negara lain ingin belajar dari Indonesia.

Namun dia mengingatkan jangan menyamakan tindak terorisme dengan jihad. "Dalam Islam kekerasan tidak dibenarkan," pungkasnya.



Sebelumnya, Polisi beralasan Siyono yang ditangkap Densus pada 9 Maret lalu, meninggal dunia setelah melakukan perlawanan di dalam mobil.

Kasus Siyono menyita perhatian publik setelah Suratmi meminta bantuan Muhammadiyah dan Komnas HAM dalam mencari keadilan atas kematian suaminya. Dia meminta agar jenazah suaminya tersebut diautopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Awalnya, kepala desa setempat menolak autopsi pada Rabu. Bahkan akan mengusir keluarga Siyono kalau autopsi tetap dilakukan. Namun autopsi akhirnya dilakukan pada Minggu lalu oleh 9 Dokter Ahli Forensik Muhammadiyah plus 1 Dokter Forensik yang didatangkan Polri.

Dari autopsi tersebut, patut diduga jenazah Siyono belum pernah dilakukan otopsi oleh siapapun sebelumnya; ditemukan luka di beberapa bagian tubuh akibat benturan keras alat/benda tumpul; dan ditemukan patah tulang jenazah.

Tim Dokter Forensik sendiri memerlukan waktu paling lama 10 hari untuk meneliti lebih jauh di laboratorium.


Sumber:http://www.rmol.co/read/2016/04/05/242081/Klaim-Sudah-Diakui-Dunia,-Polri-Minta-Densus-Tak-Disudutkan-

Postingan terkait: